Senin, 01 Februari 2016

MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL


Spanyol diduduki ummat Islam pada zaman Khalifah Al-Wahid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, ummat Islam telah menguasai afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah. Peguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di Zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Al Mallik mengangkat Hasan Ibn Nu’man al-Ghasani menjadi Gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan Ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nusair. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nusair memperluas wilayah kekuasaannya bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Penaklukkan atas wilayah Afrika Utara itu pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari Khalifah bani Umayyah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basisi kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, Umat Islam pun memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukkan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukkan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa bin Nushair. Tharif dapat disebutkan sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada antara marokko dan Benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tarif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigosthic yang berkuasa Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa Nushair pada tahun 11 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Thariq ibn Ziyad banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di wilayah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq membuka jalan untuk menaklukkan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan bermaksud perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu perstu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduannya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Sragosa sampai Navarre. Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada massa pemerintahan Khalifah Imar ibn Abdil Azizi tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditunjukan untuk menguasai daerah sekitarpegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Salamah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdl ar-Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerah kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ditahan oleh Charles Martel, penyerangan ke Perancis gagal dan tentara pmpinannya mundur kembali ke Spanyol. Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 734 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah. Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyrpus dan sebagian dari Silcilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayyah. Gelombang kedua dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian Italia.
Kemenangan-kemengan yang dicapai umat Islam menampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan. Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik dan ekonomi negeri berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik wilayah Spanyol terkoyak-koyak terbagi-bagi ke dalam negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran kepada aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran monofisit , apalagi penganut agama lain, (Yahudi. Akibat perlakuan keji koloni-koloni yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum pekerjaan Gothic bediri. Awal mula kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Raja Rodherick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Tara Wizita, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhenyikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dan Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Rodherick Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu terjadi dua konflik antara Rodherick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah  Septah. Julian bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha Umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq dan Musa.
Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Rodherick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, orang yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi pejuang kaum muslimin. Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dana para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukkan Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

Sumber:

Carl, Brockelmann, History of the Islamic Peoples, London: Rotledge & Kegan Paul, 1980.
Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II.  Ed. I, Cet, 12. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,  2002.